Hujan Terakhir Bersamamu (Jinggo Part 51)
Assalamualaikum WR,WB
Kebeneran nih mimin mampir ke Twitter, kebetulan mimin liat di TL status kaya cerita gituh, pas mimin liat, eh ternyata bener, statusnya itu buat cerita model FTV gitu deh, dan banyak banget deh statusnya, tau kan gimana twitter, buat statusnya Terbatas, jadi yang punya akun buat statusnya kata kata nya di pisah ke status lain.
Mungkin cerita ini ada lucunya, ada sedihnya, garamnya juga pas, manisnya pun terasa, pokonya segala ada.
Akh mending langsung ke ceritanya aja yah, mungkin kalian juga udah pengen buru buru baca :D
Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Yanti, begitu gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air matapun tak akan terlihat. \o/. Yanti berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, pikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karna jinggo, si pangeran berkuda putih itu. Yihaaaaaaaaaaaaaaaaaa~
Sebenarnya jinggo hanyalah pria biasa, hanya saja cinta membuat jinggo terlihat tak biasa di mata yanti. Eaaaaaaaa *tumpak pingping jos*. Tak ada yang buruk dari mengenal jinggo. Hanya saja jinggo terlalu untuk yanti. Terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar.. *shy* Dulu, yanti tidak suka pada jinggo, bahkan yanti membencinya. Tapi sekarang? Ia menyukainya atau mencintainya. Mungkin.
“Yan, kamu baik-baik saja?” Suara itu. Suara itu sudah tak asing lagi dan benar saja, ketika yanti melihat siapa orang itu. Ternyata jinggo.
“Aku? Aku baik-baik saja.” Jawab yanti. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. *greeeeeeul*
Seperti biasa, yanti duduk di samping Gisha. Gisha dulunya adalah gadis yang jinggo sukai. Huft! Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan pandai bergaul, hampir tak ada celah pada dirinya. Tapi itu dulu, sampai jinggo berkata kalo ia menyukai yanti. Yanti mendengus geli ketika otaknya memutar memori antara Dia,Gisha dan jinggo. Waktu itu, hujan sangat lebat. Yanti dan Gisha menunggu hujan itu berhenti. Gisha sibuk mengamati hujan yang deras itu. Tetapi yanti justru menikmatinya. Aroma hujan, yanti selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telinganya. Hmmmm~
Yanti menikmati itu sampai dia tahu bahwa jinggo memberikan jaketnya untuk Gisha. Yanti benar-benar cemburu hingga dia lepas kendali.
“Yan maaf.. Aku engga mau semua berakhir sampai di sini?” Yanti sempat bingung dengan isi pesan singkat jinggo.
Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata jinggo.
Tetapi akhirnya yanti menjawab “Apa yang berakhir? Nggak ada yang berakhir. Semuanya akan sama seperti dulu, Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change jinggo, trust me.”
Tiba-tiba yanti tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok jinggo.
Jinggo sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Yanti pura-pura tidak memperdulikannya.
Yanti harus fokus. Ini demi mimpinya juga kebahagiaannya. Hmmmmmmmmm ALLOH IEU NENG PEURIH SOCA!!!!!! *cry*
Jam tambahan pun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini, membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan.
Yanti sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada barang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.
“Yanti, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya” Yanti segera keluar bersama jinggo sebelum teman-temannya melihat.
Ketika jinggo mengajak yanti untuk mengobrol di tempat teduh, yanti menolaknya.
“Mau bicara apa?” tanya yanti. “Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku.
Kamu nggak pernah mengirimiku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu?” jawab jinggo yang kembali bertanya
“Semuanya sudah berakhir” “Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?” “Kita.”
Beberapa menit kemudian yanti meralat “Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?”
“Kamu ini bicara apa yanti. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita?” jawab jinggo
“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukkannya.”
“Takdir tak pernah menunjukan itu yan” jawab jinggo tegas. Tegas banget. Jiga Abri! :(
“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukankah itu cukup menunjukkan kalo kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku lembut, Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”
Hujan semakin deras. Begitu juga airmatanya. Mungkin untuk terakhir kalinya, yanti ingin jinggo mengingat senyumnya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu menginginkan ini berakhir? Bukankah terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya. Bukan aku.” “Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
"Emang engga. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
“Yan.. Dulu aku kan pernah bilang kalau aku nggak mau —” ucapan jinggo terpotong karna yanti segera menjawab.
“Itu dulu, sekarang tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
*Hening* Jinggo tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh jinggo kalau yanti akan mengatakan hal-hal seperti ini.
“Lagipula, kamu sekarang sudah punya pacar, kan?” kata yanti yang sepertinya ingin menyindir jinggo.
“Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.” sambung yanti sambil memaksakan senyum pada wajahnya.
“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya.” Jinggo benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya tadi. Bahkan yanti ikut tertawa.
Tiba-tiba yanti berhenti tertawa. Dia memperhatikan jinggo. Mungkin ini terakhir kalinya yanti melihat jinggo tertawa karnanya & bersamanya.
Yanti menatap wajah jinggo lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah jinggo. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki jinggo, maka biarkanlah yanti memiliki kenangan tentang jinggo. Tetapi yanti tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara yanti dan jinggo. Tanpa sadar yanti menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi jinggo. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Jinggo segera menghentikan tawanya.
*peurih* ibarat meser bubur kacang hejo jauh-jauh, pas di ceupeung
mangkokna bahe. Cape gawe teu kapake. *leos*
----- E N D -----
Sumber Tweet: @OrongohGoblog
Kebeneran nih mimin mampir ke Twitter, kebetulan mimin liat di TL status kaya cerita gituh, pas mimin liat, eh ternyata bener, statusnya itu buat cerita model FTV gitu deh, dan banyak banget deh statusnya, tau kan gimana twitter, buat statusnya Terbatas, jadi yang punya akun buat statusnya kata kata nya di pisah ke status lain.
Mungkin cerita ini ada lucunya, ada sedihnya, garamnya juga pas, manisnya pun terasa, pokonya segala ada.
Akh mending langsung ke ceritanya aja yah, mungkin kalian juga udah pengen buru buru baca :D
Gadis ini mencengkram erat kepalanya. Di tengah hujan, dia masih harus mengalami perdebatan sengit antara hati dan otaknya. Yanti, begitu gadis ini disapa. Menangis di tengah hujan yang sangat deras memang efektif karena tetesan air matapun tak akan terlihat. \o/. Yanti berjalan di koridor kelas dengan lesu. Bagaimana tidak, pikirannya benar-benar sedang kacau. Apalagi kalau bukan karna cinta. Tepatnya karna jinggo, si pangeran berkuda putih itu. Yihaaaaaaaaaaaaaaaaaa~
Sebenarnya jinggo hanyalah pria biasa, hanya saja cinta membuat jinggo terlihat tak biasa di mata yanti. Eaaaaaaaa *tumpak pingping jos*. Tak ada yang buruk dari mengenal jinggo. Hanya saja jinggo terlalu untuk yanti. Terlalu baik, terlalu tampan, terlalu pintar.. *shy* Dulu, yanti tidak suka pada jinggo, bahkan yanti membencinya. Tapi sekarang? Ia menyukainya atau mencintainya. Mungkin.
“Yan, kamu baik-baik saja?” Suara itu. Suara itu sudah tak asing lagi dan benar saja, ketika yanti melihat siapa orang itu. Ternyata jinggo.
“Aku? Aku baik-baik saja.” Jawab yanti. Sungguh dibalik kata baik-baik saja ada kata tidak dalam keadaan baik yang tersembunyi. *greeeeeeul*
Seperti biasa, yanti duduk di samping Gisha. Gisha dulunya adalah gadis yang jinggo sukai. Huft! Gisha itu perempuan yang cantik, pintar, dan pandai bergaul, hampir tak ada celah pada dirinya. Tapi itu dulu, sampai jinggo berkata kalo ia menyukai yanti. Yanti mendengus geli ketika otaknya memutar memori antara Dia,Gisha dan jinggo. Waktu itu, hujan sangat lebat. Yanti dan Gisha menunggu hujan itu berhenti. Gisha sibuk mengamati hujan yang deras itu. Tetapi yanti justru menikmatinya. Aroma hujan, yanti selalu menyukai itu. Rintikan hujan mengalun seperti sebuah musik di telinganya. Hmmmm~
Yanti menikmati itu sampai dia tahu bahwa jinggo memberikan jaketnya untuk Gisha. Yanti benar-benar cemburu hingga dia lepas kendali.
“Yan maaf.. Aku engga mau semua berakhir sampai di sini?” Yanti sempat bingung dengan isi pesan singkat jinggo.
Kata-katanya sedikit sulit untuk dicerna oleh otaknya. Bahkan butuh waktu yang lama untuk memikirkan kata-kata jinggo.
Tetapi akhirnya yanti menjawab “Apa yang berakhir? Nggak ada yang berakhir. Semuanya akan sama seperti dulu, Maaf, tadi aku memang lagi emosi. Jangan berlebihan menanggapinya. Nothing gonna change jinggo, trust me.”
Tiba-tiba yanti tersadar dari lamunannya karena guru sudah memasuki kelas. Lagi-lagi matanya kembali menangkap sosok jinggo.
Jinggo sibuk dengan perempuan itu. Target baru mungkin. Yanti pura-pura tidak memperdulikannya.
Yanti harus fokus. Ini demi mimpinya juga kebahagiaannya. Hmmmmmmmmm ALLOH IEU NENG PEURIH SOCA!!!!!! *cry*
Jam tambahan pun berakhir. Semua anak-anak sibuk mengobrol sana-sini, membicarakan rencana mereka sepulang jam tambahan.
Yanti sedang fokus membereskan buku-bukunya. Memastikan bahwa tak ada barang tertinggal. Tapi tiba-tiba sosok itu mengusiknya, lagi.
“Yanti, ada yang mau aku bicarakan. Kita keluar sebentar ya” Yanti segera keluar bersama jinggo sebelum teman-temannya melihat.
Ketika jinggo mengajak yanti untuk mengobrol di tempat teduh, yanti menolaknya.
“Mau bicara apa?” tanya yanti. “Kamu kenapa? Akhir-akhir ini kamu menjauhiku.
Kamu nggak pernah mengirimiku pesan singkat. Bahkan seperti kamu membenciku. Aku salah apa sama kamu?” jawab jinggo yang kembali bertanya
“Semuanya sudah berakhir” “Berakhir? Maksudmu? Apa yang berakhir?” “Kita.”
Beberapa menit kemudian yanti meralat “Maksudku bukan kita. Tapi aku dan kamu. Bukankah aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita?”
“Kamu ini bicara apa yanti. Siapa yang bilang kalau kamu dan aku tidak akan pernah menjadi kita?” jawab jinggo
“Takdir. Takdir memang tak pernah berkata tentang hal itu. Tapi, takdir menunjukkannya.”
“Takdir tak pernah menunjukan itu yan” jawab jinggo tegas. Tegas banget. Jiga Abri! :(
“Tak pernah? Bagaimana dengan kebudayaan kita? Bukankah itu cukup menunjukkan kalo kita tidak bisa bersama? Kamu keras sedangkan aku lembut, Kamu api sedangkan aku air. Kita berbeda, bahkan jika kita bersama maka kita akan menghancurkan satu sama lain.”
Hujan semakin deras. Begitu juga airmatanya. Mungkin untuk terakhir kalinya, yanti ingin jinggo mengingat senyumnya, bukan tangisnya.
“Kenapa kamu menginginkan ini berakhir? Bukankah terlalu awal untuk mengakhirinya?”
“Kenapa kamu bertanya kepadaku? Kamu yang mengakhirinya. Bukan aku.” “Aku? Aku tak pernah mengatakan ingin mengakhiri semuanya.”
"Emang engga. Tetapi kamu berhasil menunjukkan. Kamu menunjukkan tanda-tanda bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
“Yan.. Dulu aku kan pernah bilang kalau aku nggak mau —” ucapan jinggo terpotong karna yanti segera menjawab.
“Itu dulu, sekarang tanda-tandanya sudah jelas bahwa kamu ingin mengakhirinya.”
*Hening* Jinggo tidak bisa menjawab apa-apa lagi. Tak pernah terfikirkan oleh jinggo kalau yanti akan mengatakan hal-hal seperti ini.
“Lagipula, kamu sekarang sudah punya pacar, kan?” kata yanti yang sepertinya ingin menyindir jinggo.
“Pasti kamu bingung aku tahu dari mana kalau kamu sudah punya pacar.” sambung yanti sambil memaksakan senyum pada wajahnya.
“Pastinya. Kamu ini jangan-jangan penguntit aku ya.” Jinggo benar-benar tertawa lepas dengan jawabannya tadi. Bahkan yanti ikut tertawa.
Tiba-tiba yanti berhenti tertawa. Dia memperhatikan jinggo. Mungkin ini terakhir kalinya yanti melihat jinggo tertawa karnanya & bersamanya.
Yanti menatap wajah jinggo lekat-lekat. Ia mencoba mengingat setiap lekuk wajah jinggo. Jika Tuhan tak mengizinkannya untuk memiliki jinggo, maka biarkanlah yanti memiliki kenangan tentang jinggo. Tetapi yanti tak ingin mengingat kenangan ini setiap saat. Biarkanlah hujan menyimpan kenangan antara yanti dan jinggo. Tanpa sadar yanti menitihkan setetes air matanya. Dia berbalik membelakangi jinggo. Pundaknya bergetar hebat. Tangisannya benar-benar tak bisa ditahan lagi. Suara tangisnya pecah diantara lebatnya hujan. Jinggo segera menghentikan tawanya.
Dia menatap punggung itu. Punggung gadis yang dulu sempat menjadi tempat
pertama saat sedih maupun senang. ANJING NYERIIIIIIIIIIIIII. *tisu*. Yanti segera menghapus air matanya. Mengatur suaranya agar tak bergetar saat berbicara dengan jinggo nantinya. Yanti membalikkan tubuhnya dan tersenyum kaku saat melihat jinggo. Jinggo membalas senyuman yanti dengan tulus.Yanti tak tahu harus bagaimana atas sesuatu yang telah berakhir. Yang terbesit di benaknya adalah betapa bodohnya dia. Yanti juga tahu bahwa hujan akan membawanya pada kenangan antara dia dan
jinggo, tetapi pada saat hujan berhenti kenangan itu seakan hilang.
Yanti beranjak dari duduknya. Jinggo juga. “Sepertinya aku harus pulang.
Hujannya semakin deras. Dan kamu juga harus pulang.” kata yanti.
----- E N D -----
Sumber Tweet: @OrongohGoblog

0 komentar:
Posting Komentar